8/agustus /2026
KOTA METRO – kingsmedia.id – Rapat Paripurna DPRD Kota Metro dengan agenda pengambilan keputusan terhadap dua Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) pada Selasa (28/7/2026) diwarnai dinamika politik yang menyita perhatian publik. Sorotan utama muncul setelah diketahui tidak satu pun dari tiga anggota DPRD Kota Metro asal Partai Demokrat hadir dalam sidang strategis tersebut.
Ketidakhadiran seluruh legislator Demokrat menjadi sorotan tajam mengingat partai tersebut merupakan pengusung utama Wali Kota Metro Bambang Iman Santoso pada Pemilihan Kepala Daerah, sekaligus partai yang dipimpin langsung oleh kepala daerah tersebut sebagai Ketua DPC Partai Demokrat Kota Metro.
Situasi ini memicu interupsi tegas dari Anggota DPRD sekaligus Ketua DPC Partai Gerindra Kota Metro, Sudarsono atau yang akrab disapa Lek Darsono. Ia menilai ketidakhadiran kader partai pengusung kepala daerah dalam agenda pengambilan keputusan penting merupakan persoalan etika politik yang patut diperhatikan bersama.
“Kehadiran anggota dewan bukan sekadar memenuhi undangan, melainkan bentuk tanggung jawab kepada masyarakat dan penghormatan terhadap lembaga legislatif,” ujar Sudarsono di hadapan sidang.
Ia menambahkan dengan nada emosional: “Ini etika politik. Kita duduk di sini karena undang-undang dan proses politik. Pak Bambang menjabat sebagai Wali Kota karena dukungan partai pengusung, namun hari ini justru tidak ada satu pun perwakilannya. Ini pertanyaan batin saya, saya nangis, saya sudah tua.”
Sudarsono pun mempertanyakan konsistensi dukungan partai yang dipimpin langsung oleh Wali Kota. “Kok Pak Bambang sebagai ketua partai, sementara kader yang mengangkat dan mengusungnya saat pilkada justru tidak hadir sama sekali?” tandasnya.
Lebih lanjut, Sudarsono menegaskan sikap tegas yang seharusnya diambil jika dirinya berada di posisi tersebut. “Kalau saya ketua partai dan kader tidak disiplin hadir sidang penting, pasti saya beri tindakan tegas. Kasihan Pak Bambang hari ini, mana pengiring sampean? Masih mau tidak mereka jadi wakil rakyat?” katanya.
Pernyataan tersebut langsung mencuri perhatian seluruh peserta sidang. Sementara itu, Wali Kota Bambang Iman Santoso tampak tenang dan tetap mendengarkan hingga interupsi selesai disampaikan.
Sudarsono kemudian membandingkan dengan sikap fraksi lain yang tetap hadir mendukung jalannya pemerintahan meski berada di kubu berbeda saat pilkada. “Kami yang dari partai lain, yang dulunya di kubu berbeda justru all out mendukung. Kami saling menghubungi untuk memastikan kehadiran, karena Metro harus kita pikul bersama. Mengapa justru partai pengusung tidak ada satu pun? Ini soal etika politik,” tegasnya.
Di akhir interupsi, Sudarsono mengajak Wali Kota menjadikan peristiwa ini sebagai bahan evaluasi internal demi menjaga soliditas dukungan. “Saya sudah tua. Ayo Mas Bambang berpikir baik saja. Yang mau mulia itu sampean, malah anak buah sampean hilang. Yang penting Kota Metro ke depan baik. Wali kota dan wakil adalah milik kita bersama,” pungkasnya.
Menanggapi kritik tersebut, Wali Kota Metro Bambang Iman Santoso merespons secara singkat. Ia menegaskan jalannya rapat tetap sah karena telah memenuhi syarat kuorum. “Ya biasa saja, kita kan menghadiri undangan. Yang penting kuorum sudah terpenuhi, ya sudah lanjut saja,” ujarnya.
Saat dimintai penjelasan terkait absennya anggota Fraksi Demokrat, Bambang menegaskan hal itu merupakan ranah internal partai. “Itu urusan internal. Nanti saya bicarakan baik-baik dengan mereka,” jelasnya.
Peristiwa ini akhirnya menjadi catatan politik tersendiri dalam sidang tersebut. Di tengah pembahasan dua Raperda strategis, isu disiplin kehadiran dan soliditas dukungan politik justru menjadi sorotan utama di kalangan legislatif Kota Metro.
(Tim Redaksi kingsmedia)













